BANDUNG – Jalan Asia Afrika kembali menjadi saksi pertemuan bangsa-bangsa. Di tengah bangunan-bangunan bersejarah yang menyimpan jejak Konferensi Asia Afrika 1955, para delegasi dari 26 negara berkumpul di Kota Bandung untuk memperingati peristiwa yang pernah mengubah arah sejarah dunia.
Lebih dari tujuh dekade lalu, para pemimpin negara Asia dan Afrika bertemu di Gedung Merdeka untuk menyuarakan kemerdekaan, kesetaraan, dan perdamaian. Kini, semangat yang sama kembali bergema melalui rangkaian peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) Tahun 2026 yang menghadirkan para duta besar, perwakilan kementerian, tokoh internasional, hingga perwakilan Palestina.
Bagi Kota Bandung, peringatan KAA bukan sekadar mengenang masa lalu. Momentum ini menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Bandung tetap menjadi rumah bagi dialog, persahabatan, dan kerja sama antarbangsa.
Dalam sambutan Wali Kota Bandung yang dibacakan Iskandar Zulkarnain, ditegaskan bahwa semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955 masih relevan sebagai fondasi moral dalam membangun solidaritas global.
“Semangat Bandung mengingatkan kita bahwa dialog lebih kuat daripada konflik, kerja sama lebih berharga daripada persaingan, dan keberagaman merupakan sumber kekuatan, bukan perpecahan,” ungkapnya.
Iskandar Zulkarnain, menyebut bahwa kehadiran para delegasi internasional memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Kota Bandung yang dikenal sebagai kota jasa dan pariwisata memperoleh peluang besar melalui kunjungan wisatawan, kegiatan ekonomi kreatif, serta promosi budaya di tingkat global.
Di sela-sela kegiatan diplomatik, para tamu internasional diajak menikmati suasana khas Kota Kembang. Dari jejak sejarah di kawasan Asia Afrika hingga keragaman kuliner dan kreativitas anak muda Bandung, semuanya menjadi bagian dari wajah kota yang ingin diperkenalkan kepada dunia.
Tahun ini, peringatan KAA menghadirkan sejumlah agenda baru. Salah satu yang menjadi perhatian adalah sesi khusus mengenai Palestina. Dalam forum tersebut, perwakilan Palestina akan berbicara di hadapan mahasiswa dan para duta besar untuk menyampaikan pesan tentang kemerdekaan, perdamaian, dan solidaritas kemanusiaan.
Tema tersebut seolah mengingatkan bahwa nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia Afrika masih relevan hingga hari ini. Ketika dunia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik, perubahan iklim, hingga ketimpangan global, semangat dialog dan persatuan yang pernah lahir di Bandung tetap menjadi inspirasi bagi banyak negara.
Namun diplomasi di Bandung tahun ini tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pertemuan. Pada Gala Dinner Asia Africa Festival 2026, sebuah simbol sederhana dipilih untuk mempererat hubungan antarbangsa: secangkir kopi.
Mengusung tema “Regenerative Coffee Diplomacy: From Origins to Dialogue”, Pemerintah Kota Bandung menjadikan kopi sebagai medium diplomasi budaya. Dari biji kopi yang tumbuh di tanah Afrika hingga berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Asia, kopi dipandang sebagai simbol perjalanan, perjumpaan, dan pertukaran budaya yang melintasi batas negara.
Di meja-meja jamuan malam itu, percakapan berlangsung hangat. Para delegasi tidak hanya menikmati cita rasa kopi, tetapi juga berbagi gagasan, pengalaman, dan harapan mengenai masa depan kerja sama Asia-Afrika.
Bagi Bandung, kopi bukan sekadar minuman. Di balik setiap cangkir terdapat kerja keras petani, pelaku usaha, roaster, barista, hingga generasi muda kreatif yang membawa kopi Indonesia dikenal di berbagai belahan dunia. Melalui kopi, Bandung ingin menunjukkan bahwa produk lokal dapat menjadi bahasa universal yang menghubungkan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi.
Di tengah kemeriahan peringatan KAA 2026, Pemerintah Kota Bandung juga terus mendorong pengakuan internasional terhadap Gedung Merdeka sebagai situs Warisan Dunia UNESCO. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen menjaga warisan sejarah yang memiliki arti penting bagi perjalanan diplomasi global.
Ketika para delegasi kembali ke negara masing-masing, yang mereka bawa mungkin bukan hanya kenangan tentang sebuah acara internasional. Mereka juga membawa cerita tentang Bandung, kota yang pernah mengubah sejarah dunia dan hingga kini terus menjaga nyala semangat persahabatan, perdamaian, dan kerja sama antarbangsa.
Di kota ini, sejarah tidak hanya dikenang. Sejarah terus hidup, tumbuh, dan menemukan maknanya dalam setiap dialog, setiap langkah persahabatan, dan bahkan dalam setiap tegukan kopi yang mempertemukan bangsa-bangsa.**(Red. Luky)
0 Komentar